Selasa, 02 September 2014

TUHAN (tidak akan pernah) MEMBUSUK, kawan.


"Padahal dzat Tuhan itu identik dengan agama yang mengajarkan kedamaian untuk umat manusia" (Rahmat, dkutip dari sini

Malam ini saya nganggur banget malam ini di kampus. Sejenak sambil mendengarkan dan menonton video musik secara random di youtube dan menilik status teman-teman saya di facebook, saya berusaha menikmati kebiasaan saya yang beberapa waktu ini jarang saya lakukan lagi yakni begadang sampai pagi di kampus. Beberapa status dan beberapa video berhasil membuat saya terjaga sampai saya membaca status salah satu teman saya tentang pendapatnya mengenai ospek salah satu fakultas UIN Surabaya pada tahun 2014 ini. Pembaca mungkin bisa melihatnya sendiri di link yang saya kutip diatas.

Sedikit tertawa dan miris membacanya. Walaupun hanya dari satu sumber, saya tidak berkenan untuk mencari lebih jauh mengenai berita ini. Hemat saya, ujung-ujungnya hanya mendiskreditkan satu pihak. Namun saya tergelitik untuk menulis lewat blog saya ini, berharap pada suatu hari nanti dapat dijadikan pelajaran bagi para pembaca ataupun keluarga saya sendiri.Tentu saja, saya ingatkan bahwa ini pendapat pribadi dan tidak bermaksud menyinggung pihak-pihak terkait. Murni hanya pendapat pribadi. Jadi mohon maaf sebelumnya.

Oke, tema 'Tuhan Membusuk' menurut saya menggelikan. Hal yang terpikir oleh saya pertama kali adalah, "Wah, jiwa muda mahasiswa-mahasiswa ini, cukup bagus dan berani!". Hemat saya, mereka mencari identitas lewat tema yang mereka gunakan, dan itu dibagi sebagai kajian bagi mahasiswa-mahasiswa baru di tempat mereka. Saya sendiri berpikir bahwa mereka, para mahasiswa itu, berharap mereka menemukan pucuk teratas kebutuhan diri (yang telah dikonsep oleh Maslow). Mereka hanya mencari perhatian, dari sekitar, dari tuhannya. mencari titik tertinggi dari kebutuhan layaknya dijelaskan Maslow. Namun kembali mereka kurang matang memikirkan bagaimana akhirnya implementasi kedepannya bagi mereka, bagi mahasiswa baru dan bagi lingkungan akademika di sekitar mereka. Mereka juga kurang memikirkan bagaimana pendapat masyarakat mengenai hal ini. Masyarakat Indonesia, pada mayoritasnya masih menabukan konsep-konsep dan pertanyaan filosofis mengenai Tuhan.

Sejenak, kita juga seharusnya berpikir. Kalaupun tema ini dimunculkan karena melihat realita yang terjadi sekarang, maka hal ini tetap tidak pernah bisa digunakan. Karena pada dasarnya membusuk adalah kata sifat bagi sebuah benda. Sedangkan, Tuhan, yang manapun bukan semata-mata sebuah benda. Oke, saya melihatnya dari sudut padan saya sendiri sebagai orang Islam. Allah itu dzat, bukan semata-mata benda, makhluk atau entitas non-kekal apapun. Dia Maha Kekal. Membusuknya Tuhan tak akan pernah terjadi. Hal yang mungkin terjadi adalah membusuknya konsep mengenai Tuhan, dalam otak manusia itu sendiri. Selain itu juga pembusukan itu semakin terlihat dari perilaku manusianya. Jika dalam berita diterangkan tema itu dipilih karena banyak kalangan menggunakan agama dalam kepentingan politik dan lainnya, maka diksi yang digunakan dalam tema yang menggelitik itu juga tetap salah.


Intinya, pendapat saya adalah tema itu kurang pantas. Dari penulisannya, dari bahasanya. Namun temanya, lumayan jos tapi bukan sebagai tema ospek, lebih tepat untuk diskusi (mengutip pendapat teman saya @wahyusays ketika mengobrol ringan mengenai berita ini). Namun kita jangan lupa, mari kita berpikir alasan pihak dewan mahasiswa fakultas tersebut menggunakan tema ini. Agama memang digunakan sebagai alasan, seakan-akan semuanya akan halal jika untuk kepentingan agama. Mengutip Karl Max, bahwa 'agama adalah candu', maka kurang lebih tepat juga. Agama menjadi alasan terakhir seseorang berbuat semena-mena. Orang-orang yang mendapat keuntungan akhirnya ketagihan menggunakan kedok agama untuk mengeruk keuntungan lebih banyak. Dari sini, akhirnya agama hanya digunakan sebagai pemuas nafsu, kan? Bukan sebagai alasan dasar seseorang dalam bertindak, kan? Konsep ini juga yang menurut saya sebagai titik membusuknya Tuhan, dalam pemikiran manusia. Tapi ingat tulisan saya diatas, bahwa GOD is not a thing. Tuhan adalah dzat, tidak terbantahkan.

Akhir kata, mari kita kita kembali berpikir bagaimana konsep kita tentang Tuhan. Apapun konsep anda, terlepas benar atau salah, saya berdoa bahwa hal itu akan terus anda evaluasi dan anda pegang teguh. Mari kita juga mengevaluasi bagaimana kita berbahasa, karena lidah kita adalah senjata tertajam yang Tuhan berikan untuk kita. Sekali lagi saya tekankan bahwa hal ini murni pemikiran dan pendapat saya. Dan mohon maaf jika menyinggung pihak-pihak tertentu. Sekian dari saya, tetap jaga kesehatan, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!

Kamis, 19 Juni 2014

"SAYA TIDAK MERASA PUNYA PILIHAN KALI INI"

Hingar bingar politik kembali kita rasakan di tahun 2014 ini. Negeri ini kembali merasakan geliat dan berkubang dalam emosi untuk menentukan pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan. Segala macam dipertaruhkan untuk mendukung calon-calon yang ada. Baik atau buruk tidak jadi masalah. Yang penting hati senang, calon yang didukung menang, dan berharap hidup jadi tenang. Namun, bagaimana jika ada yang tidak puas dengan pesta demokrasi kali ini?

Untuk saya sendiri, kali ini adalah pemilu kedua yang bisa saya ikuti. Kalau pada pesta yang kemarin sudah memilih presiden, maka kali ini saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menikmati segala berita, omongan, obrolan, tayangan dan segala yang berhubungan dengan pemilu kali ini lewat media. Begitu pula dengan pemilihan anggota legislatif lalu. Caleg terlalu banyak, maka menurut saya kemungkinan mereka nggedabrus bin nggacor bin nyocot untuk menarik dukungan masyarakat makin tinggi. Belum lagi para artis yang juga nampang di kertas suara. Sudah enak jadi artis, eh malah coba-coba jadi anggota legislatif. Bahkan ada artis yang bilang, mereka nyaleg karena Cuma ingin tahu rasanya jadi penyambung lidah masyarakat! Apa enggak kebacut itu? Suara kita hanya dibuat main-main dan pemenuhan rasa ingin tahu mereka. Mungkin anda-anda merasa saya golput, ya saya luruskan bukan golput tapi ‘golongan nol’. Karena saya sendiri merasa tidak memiliki pilihan yang mantap di hati. Kalau memang tidak ada yang sreg, tidak memilih juga tidak masalah kan?

Jika ada yang bilang bahwa tidak memilih maka tidak mendukung kemajuan bangsa, maka belum tentu juga yang saya pilih akan jadi dan mendukung kemajuan bangsa lewat janji-janjinya kan? Kalau juga saya dibilang munafik, ya memang disini taraf kejujuran saya. Jujur pada diri sendiri untuk tidak memilih dulu. Ibarat siswa ujian masuk perguruan tinggi, daripada berharap dapat nilai 4 karena jawaban benar namun ternyata salah dan mendapat -1, maka ya 0 saja. Karena saya sendiri dibesarkan di keluarga militer (walaupun sebenarnya jarang juga mendapat perlakuan dan kemudahan ala keluarga militer lain yang lebih tinggi pangkatnya) dan di sebuah keluarga yang menghargai pilihan selama dikomunikasikan dengan keluarga, maka ya saya anggap sah saja jika saya untuk kali ini diam, sejenak mengamati hingga 5 tahun.

Mungkin juga beberapa dari anda akan berpikir, “Wah ini yang nulis mahasiswa, nggak jelas lulusnya kapan juga. Tukang demo nih nanti!”, saya ya mesem saja. Saya sendiri belum tentu juga tahu dimana nanti muncul masalah yang bakal timbul di era kepemimpinan presiden terpilih 2014. Saya juga merasa tidak ada gunanya berdemo. Selain menghabiskan waktu, jika tidak ada program maupun rencana nyata dari pendemo untuk membantu menyelesaikan masalah yang muncul, ya percuma. Belum lagi, kalau sudah anarkis, wah kacau. Tidak ingat orang tua yang nguliahin, tidak ingat jodoh (entah sudah cocok, masih penjajagan, atau masih berharap sambil ngenes di malam minggu) dan juga tidak ingat nyelesein TA.
  
Semoga Indonesia menjadi lebih bermartabat dan hebat serta merasakan keadilan lewat siapapun presiden terpilih 9 Juli nanti. Lewat tulisan ini, saya cuma mengajak masyarakat untuk tidak sekedar menjagokan bahkan sampai berjudi, tidak hanya mendengarkan janji tapi tanpa ada lanjutan aksi, tidak hanya memilih maupun tidak memilih tanpa peran hati nurani. Kalau merasakan hal yang sama dengan saya, jangan tidak datang ke TPS. Tetap gunakan hak anda, bukan untuk siapa-siapa, tapi coblos saja lambang Indonesia disana. Bagi yang sudah memiliki pilihan, yang terpenting, jangan lupakan janji mereka, jangan lupakan rayuan mereka. Ingat, kalau perlu catat! Taruh di depan tv, selotip dengan kuat! Dan bandingkan dengan cerdas. Biarkan memang rakyat yang memilih, tapi siapapun yang anda dukung, jangan lupakan bahwa yang menang harus membuktikan janjinya sekarang, tagih bersama-sama. Kalau tidak terbukti, jegal saja mulut kader-kader, mulut anggota-anggota kampanye dan mulut handai taulan yang menghipnotis anda untuk memilih apa yang mereka usung. Dan segeralah berpikir, kenapa anda sampai memilih yang tidak bisa menjaga janji-janjinya sendiri. 

Jumat, 30 Mei 2014

AKU KINI KEHILANGAN

Aku kini kehilangan
Sejuk-sayup sore hari
Waktu mandi, gegas ngaji
Berlari membalap matahari

Aku kehilangan, lagi
Dimana ujung tak terlihat, lagi
Dimana bosan mengungkung, lagi
Sekerjap-kerjap, ujung pergi
Ujung pergi, tak bisa kuraih sambil berlari
Berjalan, tak juga dapat
Merangkak, tak jua sempat
Lalu
Kehilangan lagi

Kali ini, aku yang hilang
Rasa ingin hormat, rasa ingin turun, rasa ingin beranjak, rasa ingin kekal, rasa ingin beda, rasa ingin sayang, rasa ingin hidup
Mati juga hilang kini

Kucari yang hilang, atau aku yang dicari-cari?
Kucari jalan panjang, atau aku yang mempersempit hati?
Kucari tujuan, atau aku yang lupa diri?


Lantai K'ramik, 30 Mei 2014
Dikutip dari milik pribadi

Sabtu, 10 Mei 2014

Khusnudzon Malam Minggu

            Para pembaca muda, ketika tulisan ini saya tuangkan lewat jemari saya yang segede lengkuas ini bertepatan dengan malam yang disakralkan oleh mayoritas anak muda yakni malam minggu. Ditengah kebosanan yang menumpuk dan angin yang yang berhembus sepoi, saya mencoba menelaah kenapa malam ini dianggap begitu spesial lewat kacamata khusnudzon ala saya.
            Saya sendiri menganggap malam minggu begitu spesial, ya karena pada saat saya sekolah dulu malam ini adalah menjelang hari Minggu, dimana kalau biasanya saya akan berangkat bersepeda ria (kalau tidak malas) atau main PS (kalau rental buka) atau nonton kartun (saat 'Indosiar' masih menayangkan kartun full sampai jam 12 siang) atau mungkin membantu ibu di dapur (kalau masak enak). Saat itu saya berpikir kalau memang malam ini sangat spesial karena besoknya saya bisa menghabiskan waktu saya sebagai anak-anak dan bukan diperas dengan waktu untuk pergi sekolah. Menjelang remaja saya merasa malam ini begitu spesial karena malam minggu seperti ini biasanya saya keluar dengan teman-teman untuk menghabiskan gelas es teh sambil membahas hari-hari sekolah sebelumnya.
            Yang sedikit saya herankan kenapa ada yang menganggap malam ini adalah malam dimana bisa bertemu dengan pacar, menghabiskan waktu, bersenang-senang dan lainnya. Padahal kalau mau dipikir juga selama saat sekolah bisa juga bertemu pasangan dan teman. Kalaupun berbeda sekolah ya masih bisa kan antar-jemput gitu selain malam minggu ini. Pandangan ini yang akhirnya menjadikan banyak kenakalan (baca: proses berkembang yang kurang tepat) remaja terjadi. Seks bebas, mabuk, balap liar, menjadi santapan wajib remaja pada saat malam minggu.
            Yang lebih menyedihkan lagi adalah malam minggu bagi para jomblo. Kenapa pula disebut jomblo? Siapa yang menciptakan kata itu? Anyway, malam minggu seperti sekarang adalah malam yang menjadi momok karena mereka tidak bisa keluar bersama pasangan. Padahal ya bisa juga keluar bersama teman ataupun keluarga atau belajar, mungkin? Ataukah memang sudah separah itukah hubungan keharmonisan dalam keluarga sehingga tidak sempat ada waktu bersama berjalan-jalan, diajak makan gratis atau hanya sekedar nonton tivi sambil nyemil kacang goreng plastikan di rumah?
            Yang pasti menurut saya, pandangan seperti ini sangat sangat perlu dirubah. Sudah tidak jamannya remaja melakukan hal-hal yang kurang baik pada malam ini. Sudah tidak jamannya para jomblo makin ngenes di rumah atau dimana saja dan meratap atas kekalahan yang tidak bisa dia akui. Sudah waktunya semua remaja melakukan hal positif selama malam minggu, kalau perlu setiap malam. Sudah seharusnya para remaja yang dimabuk asmara ini tidak menggunakan kesempatan untuk enak-enakan padahal masih ada teman-teman mereka yang putus asa akhirnya nongkrong tidak jelas, balapan, mabuk, atau yang parah ya terpekur nonton bokep di rumah.
            Saya sendiri sekarang sering, bahkan selalu menghabiskan malam minggu saya di kampus. Ngenet sampai bosan. Karena menurut saya malam minggu adalah satu waktu saya bisa terpekur sendiri, tanpa mbokep tentunya, dan curhat dengan diri sendiri, dengan Tuhan ataupun dengan suasana. Ketika banyak waktu yang saya habiskan untuk melihat teman-teman saya, maka saya juga butuh waktu untuk sendiri atau setidaknya nyempil menjauh dari teman-teman saya. Karena waktu untuk sendiri adalah waktu yang sangat baik bagi kesehatan jasmani dan rohani.
Semoga terhibur dengan tulisan kali ini. Tetaplah semangat dalam malam-malam kalian. Dan tidak lupa mohon maaf jika terdapat kesalahan ataupun kebetulan yang bikin kalian tidak nyaman. Akhir kata, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!

Gazebo 4, 10 Mei 2014


Rabu, 07 Mei 2014

First Night, First Words, First Post

Kadang aku mikir, kalo memulai apapun itu harus didahului oleh sesuatu yang memang berkesan untuk ditulis. Karena itu aku selalu tidak mendapat semangat untuk menulis. Kalaupun ada, hal itu hanya akan berhenti di tengah, tanpa penyelesaian, tanpa ending, tanpa akhir. Hahaha, jadi berpikir kalau ternyata benar juga yang dikatakan teman-teman selama ini, bahwa aku adalah mahasiswa yang tidak pernah ada penyelesaiannya bahkan saat bercanda. Tidak ada yang lucu pada akhirnya dan tidak ada yang tertawa. Kalaupun ada, mereka menertawakan (dan tentunya sedikit kesal) dengan guyonanku  yang tidak lucu.
Oh ya, sebelumnya perkenalkan. Aku Roni, mahasiswa psikologi. Pada tulisan ini dibuat, aku sudah masuk semester 6, pertengahan pula. Yaaa, kalau dipikir memang sudah dekat waktuku untuk keluar dari kampusku tercinta dan masuk ke kehidupan yang jauh lebih keras. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku cuma mahasiswa yang tidak memiliki kelebihan di bidang akademis. Bukannya bodoh juga sih, namun rasa malas ini yang selalu kujadikan alasan untuk tidak belajar, ataupun memulai sesuatu.
Kembali pada bahasan awal tentang menulis. Sebenarnya tidak perlu ada trigger khusus. Asalkan ada kemauan. Dulu, pernah kubikin semacam blog, postingan cuma dua, tentang perkenalan dan ujian matematika. Itupun dengan bahasa alay saat itu. Mau bagaimana lagi, anak muda. Semangatnya tinggi, namun pendiriannya ngambang. Tapi mungkin dari kalian banyak yang bertanya, kalau memang aku berpikir bahwa perlu ada penyebab, kira-kira apa penyebabnya pada tulisan awalku ini?
Jawabannya tidak ada. Saat ini aku menulis hanya karena nganggur di kos seharian. Malam ketika kutulis ini, angin sedang berhembus kencang. Di balkon kos kutulis ini. Yah, daripada menganggur. Dan kupikir, inilah hal paling produktif yang bisa kulakukan dan aku ingin membuatnya menjadi rutin. Mungkin di tulisan-tulisan selanjutnya, kalian akan bisa sedikit memahami bagaimana kehidupanku. Bukan bermaksud pamer, tapi ya memang kebutuhan manusia kan untuk membuktikan eksistensinya? Dan inilah caraku. Kuharap juga hal ini bisa memberikan inspirasi bagi kalian yang membaca. Minimal untuk bersemangat membuktikan eksistensi kalian tanpa mengganggu sekitar.
Terimakasih sudah membaca tulisan pertamaku disini. Semoga terhibur dengan tulisan-tulisanku. Dan mohon maaf jika terdapat kesalahan ataupun kebetulan yang bikin kalian tidak nyaman. Akhir kata, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!


Balkon kos, 7 Mei 2014