Hingar bingar
politik kembali kita rasakan di tahun 2014 ini. Negeri ini kembali merasakan
geliat dan berkubang dalam emosi untuk menentukan pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan.
Segala macam dipertaruhkan untuk mendukung calon-calon yang ada. Baik atau
buruk tidak jadi masalah. Yang penting hati senang, calon yang
didukung menang, dan berharap hidup jadi tenang. Namun, bagaimana jika ada yang
tidak puas dengan pesta demokrasi kali ini?
Untuk
saya sendiri, kali ini adalah pemilu kedua yang bisa saya ikuti. Kalau pada
pesta yang kemarin sudah memilih presiden, maka kali ini saya memutuskan untuk
berhenti sejenak dan menikmati segala berita, omongan, obrolan, tayangan dan
segala yang berhubungan dengan pemilu kali ini lewat media. Begitu pula dengan
pemilihan anggota legislatif lalu. Caleg terlalu banyak, maka menurut saya
kemungkinan mereka nggedabrus bin nggacor bin nyocot untuk
menarik dukungan masyarakat makin tinggi. Belum lagi para artis yang juga
nampang di kertas suara. Sudah enak jadi artis, eh malah coba-coba jadi anggota
legislatif. Bahkan ada artis yang bilang, mereka nyaleg karena
Cuma ingin tahu rasanya jadi penyambung lidah masyarakat! Apa enggak
kebacut itu? Suara kita hanya dibuat main-main dan pemenuhan rasa
ingin tahu mereka. Mungkin anda-anda merasa saya golput, ya saya luruskan bukan
golput tapi ‘golongan nol’. Karena saya sendiri merasa tidak memiliki pilihan
yang mantap di hati. Kalau memang tidak ada yang sreg, tidak
memilih juga tidak masalah kan?
Jika
ada yang bilang bahwa tidak memilih maka tidak mendukung kemajuan bangsa, maka
belum tentu juga yang saya pilih akan jadi dan mendukung kemajuan bangsa lewat
janji-janjinya kan? Kalau juga saya dibilang munafik, ya memang disini taraf
kejujuran saya. Jujur pada diri sendiri untuk tidak memilih dulu. Ibarat siswa
ujian masuk perguruan tinggi, daripada berharap dapat nilai 4 karena jawaban
benar namun ternyata salah dan mendapat -1, maka ya 0 saja. Karena saya sendiri
dibesarkan di keluarga militer (walaupun sebenarnya jarang juga mendapat
perlakuan dan kemudahan ala keluarga militer lain yang lebih tinggi pangkatnya)
dan di sebuah keluarga yang menghargai pilihan selama dikomunikasikan dengan
keluarga, maka ya saya anggap sah saja jika saya untuk kali ini diam, sejenak
mengamati hingga 5 tahun.
Mungkin
juga beberapa dari anda akan berpikir, “Wah ini yang nulis mahasiswa, nggak
jelas lulusnya kapan juga. Tukang demo nih nanti!”, saya ya mesem saja.
Saya sendiri belum tentu juga tahu dimana nanti muncul masalah yang bakal
timbul di era kepemimpinan presiden terpilih 2014. Saya juga merasa tidak ada
gunanya berdemo. Selain menghabiskan waktu, jika tidak ada program maupun
rencana nyata dari pendemo untuk membantu menyelesaikan masalah yang muncul, ya
percuma. Belum lagi, kalau sudah anarkis, wah kacau. Tidak ingat orang tua yang
nguliahin, tidak ingat jodoh (entah
sudah cocok, masih penjajagan, atau masih berharap sambil ngenes di malam minggu)
dan juga tidak ingat nyelesein TA.
Semoga
Indonesia menjadi lebih bermartabat dan hebat serta merasakan keadilan lewat
siapapun presiden terpilih 9 Juli nanti. Lewat tulisan ini, saya cuma mengajak
masyarakat untuk tidak sekedar menjagokan bahkan sampai berjudi, tidak hanya
mendengarkan janji tapi tanpa ada lanjutan aksi, tidak hanya memilih maupun
tidak memilih tanpa peran hati nurani. Kalau merasakan hal yang sama dengan
saya, jangan tidak datang ke TPS. Tetap gunakan hak anda, bukan untuk
siapa-siapa, tapi coblos saja lambang Indonesia disana. Bagi yang sudah
memiliki pilihan, yang terpenting, jangan lupakan janji mereka, jangan lupakan
rayuan mereka. Ingat, kalau perlu catat! Taruh di depan tv, selotip dengan
kuat! Dan bandingkan dengan cerdas. Biarkan memang rakyat yang memilih, tapi siapapun
yang anda dukung, jangan lupakan bahwa yang menang harus membuktikan janjinya
sekarang, tagih bersama-sama. Kalau tidak terbukti, jegal saja mulut
kader-kader, mulut anggota-anggota kampanye dan mulut handai taulan yang
menghipnotis anda untuk memilih apa yang mereka usung. Dan segeralah berpikir,
kenapa anda sampai memilih yang tidak bisa menjaga janji-janjinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar