Sabtu, 10 Mei 2014

Khusnudzon Malam Minggu

            Para pembaca muda, ketika tulisan ini saya tuangkan lewat jemari saya yang segede lengkuas ini bertepatan dengan malam yang disakralkan oleh mayoritas anak muda yakni malam minggu. Ditengah kebosanan yang menumpuk dan angin yang yang berhembus sepoi, saya mencoba menelaah kenapa malam ini dianggap begitu spesial lewat kacamata khusnudzon ala saya.
            Saya sendiri menganggap malam minggu begitu spesial, ya karena pada saat saya sekolah dulu malam ini adalah menjelang hari Minggu, dimana kalau biasanya saya akan berangkat bersepeda ria (kalau tidak malas) atau main PS (kalau rental buka) atau nonton kartun (saat 'Indosiar' masih menayangkan kartun full sampai jam 12 siang) atau mungkin membantu ibu di dapur (kalau masak enak). Saat itu saya berpikir kalau memang malam ini sangat spesial karena besoknya saya bisa menghabiskan waktu saya sebagai anak-anak dan bukan diperas dengan waktu untuk pergi sekolah. Menjelang remaja saya merasa malam ini begitu spesial karena malam minggu seperti ini biasanya saya keluar dengan teman-teman untuk menghabiskan gelas es teh sambil membahas hari-hari sekolah sebelumnya.
            Yang sedikit saya herankan kenapa ada yang menganggap malam ini adalah malam dimana bisa bertemu dengan pacar, menghabiskan waktu, bersenang-senang dan lainnya. Padahal kalau mau dipikir juga selama saat sekolah bisa juga bertemu pasangan dan teman. Kalaupun berbeda sekolah ya masih bisa kan antar-jemput gitu selain malam minggu ini. Pandangan ini yang akhirnya menjadikan banyak kenakalan (baca: proses berkembang yang kurang tepat) remaja terjadi. Seks bebas, mabuk, balap liar, menjadi santapan wajib remaja pada saat malam minggu.
            Yang lebih menyedihkan lagi adalah malam minggu bagi para jomblo. Kenapa pula disebut jomblo? Siapa yang menciptakan kata itu? Anyway, malam minggu seperti sekarang adalah malam yang menjadi momok karena mereka tidak bisa keluar bersama pasangan. Padahal ya bisa juga keluar bersama teman ataupun keluarga atau belajar, mungkin? Ataukah memang sudah separah itukah hubungan keharmonisan dalam keluarga sehingga tidak sempat ada waktu bersama berjalan-jalan, diajak makan gratis atau hanya sekedar nonton tivi sambil nyemil kacang goreng plastikan di rumah?
            Yang pasti menurut saya, pandangan seperti ini sangat sangat perlu dirubah. Sudah tidak jamannya remaja melakukan hal-hal yang kurang baik pada malam ini. Sudah tidak jamannya para jomblo makin ngenes di rumah atau dimana saja dan meratap atas kekalahan yang tidak bisa dia akui. Sudah waktunya semua remaja melakukan hal positif selama malam minggu, kalau perlu setiap malam. Sudah seharusnya para remaja yang dimabuk asmara ini tidak menggunakan kesempatan untuk enak-enakan padahal masih ada teman-teman mereka yang putus asa akhirnya nongkrong tidak jelas, balapan, mabuk, atau yang parah ya terpekur nonton bokep di rumah.
            Saya sendiri sekarang sering, bahkan selalu menghabiskan malam minggu saya di kampus. Ngenet sampai bosan. Karena menurut saya malam minggu adalah satu waktu saya bisa terpekur sendiri, tanpa mbokep tentunya, dan curhat dengan diri sendiri, dengan Tuhan ataupun dengan suasana. Ketika banyak waktu yang saya habiskan untuk melihat teman-teman saya, maka saya juga butuh waktu untuk sendiri atau setidaknya nyempil menjauh dari teman-teman saya. Karena waktu untuk sendiri adalah waktu yang sangat baik bagi kesehatan jasmani dan rohani.
Semoga terhibur dengan tulisan kali ini. Tetaplah semangat dalam malam-malam kalian. Dan tidak lupa mohon maaf jika terdapat kesalahan ataupun kebetulan yang bikin kalian tidak nyaman. Akhir kata, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!

Gazebo 4, 10 Mei 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar