Rabu, 10 Desember 2014

DINAMIKA PSYCHOLOGICAL WELL-BEING INDIVIDU YANG MENDERITA PENYAKIT KUSTA YANG DI ISOLASI
Nur Iqrimah Yuwono, M. Roni Wahyuddin, Annisa Putri, Dr.Cholichul Hadi, psikolog
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
Dibuat untuk memenuhi tugas Psikologi Humanistik A

Abstrak
Psychological well-being merupakan keadaan dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya untuk menjadi optimal secara psikologis (Ryff & Singer, 1966). Dinamika kesejahteraan psikologis seorang penderita kusta akan mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhannya, terlebih pada penderita kusta yang di isolasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi dan wawancara pada penderita kusta yang di isolasi secara langsung. Penelitian ini sendiri bertujuan untuk melihat bagaimana dinamika psychological well-being pada individu yang menderita penyakit kusta yang di isolasi dalam melihat bagaimana cara individu tersebut untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan psikologisnya. 
Kata Kunci: psychological well-being, penderita kusta, isolasi

Problem
Menurut data WHO di tahun 2011, tercatat 219.075 kasus baru kusta di dunia dengan prevalensi 4,06 per 10.000 penduduk. Menurut profil data kesehatan Indonesia tahun 2011, terdapat 19.371 kasus baru kusta di Indonesia dengan prevalensi 8,03 per 100.000 penduduk. Analisis survey yang dilakukan dalam studi oleh Hugh Cross (2013), menemukan bahwa saat ini jumlah penderita kusta di Indonesia masih termasuk menempati penderita kusta terbanyak di dunia. Sempat pada pertengahan tahun 2000, Indonesia sudah dapat mencapai eliminasi kusta yang ditargetkan, akan tetapi data yang dilaporkan jumlah penderita baru sampai saat ini tidak menunjukkan adanya penurunan yang begitu bermakna (berdasarkan laporan Hugh Cross dalam American Leprosy Minions, 2013).
Penyakit kusta sendiri sebenarnya bisa disembuhkan, namun memang diperlukan penanganan yang menyeluruh, tidak hanya secara medis saja, namun juga diperlukan adanya pendekatan secara psikologis (Dr. Benjamin Sihombing, dalam Rafferty 2005). Penderita kusta yang diisolasi/dikucilkan akan mengalami kurangnya dukungan dari lingkungannya (lack of social support), tentu akan memiliki perasaan malu dan tidak nyaman dengan kondisi dirinya, lalu memandang negatif tentang dirinya, kemudian hal tersebut dapat menimbulkan juga hilangnya harga diri (loss of self-esteem) yang bisa mengarah pada runtuhnya kendali emosi yang berujung pada depresi (Ryff & Singer, 1996). Oleh karena itu penelitian ini penting untuk dilakukan.

Pentingnya Tema
Menurut Joy Rafferty (2005), dengan adanya fenomena nyata seperti penderita kusta yang di isolasi, maka dapat mempengaruhi kerusakan pada kesejahteraan fisik, sosial, psikologis dan bahkan ekonomi mereka. Banyak penderita kusta yang mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan kesejahteraannya terutama dikarenakan pada faktor rendahnya dukungan sosial, kehilangan harga diri, dan menurunnya rasa hormat dari masyarakat. Tidak heran jika para pengidap kusta diperlakukan seperti sampah yang harus disingkirkan atau dibuang. Kenyataan seperti itu ternyata masih saja terjadi di kota-kota besar, bahkan hingga kini. Bahkan masih banyak yang mempercayai penyakit kusta sebagai penyakit kutukan dan kurangnya dukungan yang diberikan oleh masyarakat.
Penelitian ini menjadi penting karena saat ini banyak penderita kusta yang di isolasi dan kurang mendapatkan dukungan yang optimal, jadi diharapkan setelah adanya penelitian ini akan mendorong masyarakat untuk memberikan perasaan kasih sayang, harga diri, dan respek kepada penderita kusta. Sehingga hal tersebut juga akan mendorong semangat positif terhadap penderita dalam memenuhi kebutuhannya. Dukungan penuh dari orang-orang yang disayangi dan hubungan personal yang lebih dalam akan mempermudah pemenuhan psychological well-being bagi kaum penderita.

Metode
Teknik penggalian data yang digunakan pada penelitian kali ini adalah wawancara semi-structured pada subjek dan significant others untuk mendapatkan mendapatkan data yang spesifik dan melakukan analisis secara mendalam apa saja yang dialami subjek dan bagaimana subjek berperan. Wawancara semi-structured dilaksanakan berdasarkan dengan pedoman umum yang berisi hal-hal penting yang harus digali agar wawancara berlangsung dengan fokus. Wawancara ini mencakup percakapan berupa tanya jawab yang diarahkan mencapai tujuan tertentu. (Banister dkk, 1994, dalam Poerwandari, 2005).


Sampel
Sampel yang digunakan adalah penderita kusta aktif yang berusia 25-60 tahun dan berada di Indonesia. Penderita mengalami proses isolasi sosial (diasingkan di suatu tempat). Sampel akan dilakukan sebanyak 10 pria dan 10 wanita. Tidak ada ketentuan mengenai budaya, pendidikan, kepribadian dan latar belakang ekonomi. Berdasarkan persentil dari Ditjen PP-PL Depkes RI kemudian akan dihitung sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Analisis kami didasarkan pada 6000 penderita kusta yang di isolasi di Indonesia yang berusia 27-55. Jadi, usia rata-rata penderita kusta dalam sampel adalah 46 tahun (80 persen dari sampel).

Hasil
Dari hasil yang didapat, ditemukan bahwa parapenderita kusta kebanyakan kurang merasa sejahtera dengan keadaan yang mereka rasakan. Sebanyak 7 orang (5 laki-laki dan 2 perempuan) merasa bahwa apa yang mereka butuhkan benar-benar tidak dapat mereka penuhi dengan tepat dengan kondisi mereka yang terisolasi dan menghasruskan mereka memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Sebanyak 8 orang (5 perempuan dan 3 laki-laki) cenderung merasa sedikit kekurangan atas kebutuhannya dengan kondisi yang mereka rasakan dan dari hasil mereka berusaha dengan semampu mereka. Sedangkan sisanya, merasa sangat cukup dengan apa yang mereka dapatkan bahkan dengan kondisi mereka yang terisolasi.
Saran
Dalam penyusunan penelitian ini, peneliti menyadari adanya keterbatasan subjek serta metode analisis yang digunakan. Penelitian ini seharusnya dapat memberikan pengetahuan dari penggalian lebih dalam mengenai psychological well-being yang dialami oleh penderita kusta, bukan hanya sekedar tinggi atau rendahnya psychological well-being yang terjadi pada mereka, namun juga memberikan gambaran secara lengkap mengenai faktor-faktor apa saya yang dapat mempengaruhi psychological well-being mereka.


DAFTAR PUSTAKA
Cross, Hugh. (2013). The Prevention of Leprosy Related Disability as an Integral Component of the Government Health Delivery Programme in Indonesia: Perspectives on Implementation. American Leprosy Missions. 84, 219–228.
Poerwandari, E.K. (2005). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Depok: LPSP3 UI.
Rafferty, Joy. (2005). Curing The Stigma of Leprosy. Duncarse Rd Dundee, United Kingdom.
Ryff, C.D. (1995). Psychological Well-Being in Adult Life. Curr Dir Psychol Sci. 4:99-104.
Kahneman,  D.  &  Krueger,  A.B.  2006. Developments  in  the  Measurement  of
Subjective  Well  Being.  Journal  of Economic Perspectives, 20: 3-24.
Diener,  E.  &  Suh,  E.M.  2000.  Culture  and Subjective Well Being. MIT Press.




Berikut ini adalah salah satu contoh kasus mengenai kehidupan penderita kusta

KEDIRI, KOMPAS.com - Purwanto melatih otot jari-jarinya yang kaku dengan gagang pintu yang dipasang di sebuah potongan kayu. Dengan gagang pintu itu, lelaki 36 tahun itu juga melatih sensitivitas saraf tepi di tangannya yang sudah dua tahun terakhir mati rasa.

Melatih otot dan sensitivitas saraf tangan adalah aktivitas sehari-hari bapak satu anak ini setahun terakhir sejak menjadi pasien penyakit kusta di Rumah Sakit Kusta Kota Kediri, Jawa Timur. 

Purwanto mengaku yakin akan sembuh dari penyakit yang menyiksanya secara fisik dan mental itu.  Dia juga akan membuktikan, kusta bukanlah penyakit turunan atau bahkan penyakit kutukan.

"Penyakit saya ini bisa disembuhkan secara medis, bukan penyakit kutukan seperti apa yang dibilang orang-orang di kampung saya. Itu semua dusta belaka," kata Purwanto, akhir pekan lalu.

Warga Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur itu mengaku menjadi korban stigma negatif masyarakat tentang kusta. Dia merasa diasingkan oleh tetangga dan keluarga besarnya karena dia dianggap mengidap penyakit kutukan. "Anak saya yang tidak tahu apa-apa juga jadi korban, dia dijauhi oleh teman-teman bermainnya," ujar Purwanto.

Sikap orang-orang di sekitarnya membuat Purwanto mengalami tekanan batin dan merasa drop. Akhir Juni tahun lalu, dia pun memilih berobat ke RS Kusta Kediri. Untungnya dia masih memiliki isteri yang masih setia menemaninya berobat inap sampai saat ini.

Cerita Purwanto ini jauh lebih baik dibanding nasib yang menimpa Fiki Hendra (48). Kaki kiri warga Kecamatan Peterongan, Jombang, Jawa Timur itu harus diamputasi, dan diganti dengan kaki palsu. Fiki pun menjadi cacat seumur hidup, karena penanganan penyakit yang terbilang lambat.

Namun ayah tiga orang anak itu mengaku tidak mengalami tekanan batin. Sebab orang-orang di sekitarnya tidak pernah mengucilkan keberadaannya. "Mereka semua mengerti dengan penyakit saya ini, kalau ada yang berani menghina, saya akan pukul dia," tegas Fiki.

Fiki yang baru sebulan menjadi pasien RS Kusta Kediri, saat ini hanya menunggu pengerjaan kaki palsunya. Setelah itu, dia akan berupaya bangkit dan bekerja apapun untuk menghidupi rumah tangganya.

Stigma negatif masyarakat tentang penyakit kusta, diakui Kepala Rumah Sakit Kusta Kediri, Nur Siti Maimunah. Kebanyakan penderita penyakit kusta dikucilkan dari kehidupan sosial karena mereka takut penyakit tersebut menular.

"Masih banyak yang menganggap, penyakit kusta adalah kutukan turun temurun dari keluarga," kata dia.

Atas alasan itu, RS Kusta Kediri kerap menurunkan petugas untuk mengevakuasi penderita kusta dari lingkungan sosialnya ke rumah sakit. Sebab, warga sekitar bahkan keluarganya tidak berkenan mendekat apalagi merawatnya. Pun juga dengan pasien yang dirawat, kadang mereka tidak mengaku kepada tetangga sekitarnya jika dia sedang dirawat di rumah sakit Kusta. "Mereka kadang beralasan kerja ke luar kota, padahal sedang dirawat di sini," terang Nur Siti.

Derita pasien kusta bahkan berlanjut saat dia dinyatakan sembuh. Lingkungan sosial masih kerap belum menerimanya 100 persen, karena itu mantan penderita kusta di kebanyakan tempat masih menjauh dari lingkungan sosialnya. Mereka justru akrab dengan kelompok sesama penderita kusta yang dihimpun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak khusus menangani mantan penderita Kusta.

"Jangankan diterima di lingkungan sosial, produk kerajinan tangan mantan penderita Kusta saja saat ini masih sulit diterima masyarakat," ujar dia.

(dikutip dari http://regional.kompas.com/read/2014/09/23/14502751/Stigma.Dusta.Penyakit.Kusta. diakses pada tanggal 1 Desember 2014)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar