Kamis, 19 Juni 2014

"SAYA TIDAK MERASA PUNYA PILIHAN KALI INI"

Hingar bingar politik kembali kita rasakan di tahun 2014 ini. Negeri ini kembali merasakan geliat dan berkubang dalam emosi untuk menentukan pemimpin Indonesia 5 tahun kedepan. Segala macam dipertaruhkan untuk mendukung calon-calon yang ada. Baik atau buruk tidak jadi masalah. Yang penting hati senang, calon yang didukung menang, dan berharap hidup jadi tenang. Namun, bagaimana jika ada yang tidak puas dengan pesta demokrasi kali ini?

Untuk saya sendiri, kali ini adalah pemilu kedua yang bisa saya ikuti. Kalau pada pesta yang kemarin sudah memilih presiden, maka kali ini saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menikmati segala berita, omongan, obrolan, tayangan dan segala yang berhubungan dengan pemilu kali ini lewat media. Begitu pula dengan pemilihan anggota legislatif lalu. Caleg terlalu banyak, maka menurut saya kemungkinan mereka nggedabrus bin nggacor bin nyocot untuk menarik dukungan masyarakat makin tinggi. Belum lagi para artis yang juga nampang di kertas suara. Sudah enak jadi artis, eh malah coba-coba jadi anggota legislatif. Bahkan ada artis yang bilang, mereka nyaleg karena Cuma ingin tahu rasanya jadi penyambung lidah masyarakat! Apa enggak kebacut itu? Suara kita hanya dibuat main-main dan pemenuhan rasa ingin tahu mereka. Mungkin anda-anda merasa saya golput, ya saya luruskan bukan golput tapi ‘golongan nol’. Karena saya sendiri merasa tidak memiliki pilihan yang mantap di hati. Kalau memang tidak ada yang sreg, tidak memilih juga tidak masalah kan?

Jika ada yang bilang bahwa tidak memilih maka tidak mendukung kemajuan bangsa, maka belum tentu juga yang saya pilih akan jadi dan mendukung kemajuan bangsa lewat janji-janjinya kan? Kalau juga saya dibilang munafik, ya memang disini taraf kejujuran saya. Jujur pada diri sendiri untuk tidak memilih dulu. Ibarat siswa ujian masuk perguruan tinggi, daripada berharap dapat nilai 4 karena jawaban benar namun ternyata salah dan mendapat -1, maka ya 0 saja. Karena saya sendiri dibesarkan di keluarga militer (walaupun sebenarnya jarang juga mendapat perlakuan dan kemudahan ala keluarga militer lain yang lebih tinggi pangkatnya) dan di sebuah keluarga yang menghargai pilihan selama dikomunikasikan dengan keluarga, maka ya saya anggap sah saja jika saya untuk kali ini diam, sejenak mengamati hingga 5 tahun.

Mungkin juga beberapa dari anda akan berpikir, “Wah ini yang nulis mahasiswa, nggak jelas lulusnya kapan juga. Tukang demo nih nanti!”, saya ya mesem saja. Saya sendiri belum tentu juga tahu dimana nanti muncul masalah yang bakal timbul di era kepemimpinan presiden terpilih 2014. Saya juga merasa tidak ada gunanya berdemo. Selain menghabiskan waktu, jika tidak ada program maupun rencana nyata dari pendemo untuk membantu menyelesaikan masalah yang muncul, ya percuma. Belum lagi, kalau sudah anarkis, wah kacau. Tidak ingat orang tua yang nguliahin, tidak ingat jodoh (entah sudah cocok, masih penjajagan, atau masih berharap sambil ngenes di malam minggu) dan juga tidak ingat nyelesein TA.
  
Semoga Indonesia menjadi lebih bermartabat dan hebat serta merasakan keadilan lewat siapapun presiden terpilih 9 Juli nanti. Lewat tulisan ini, saya cuma mengajak masyarakat untuk tidak sekedar menjagokan bahkan sampai berjudi, tidak hanya mendengarkan janji tapi tanpa ada lanjutan aksi, tidak hanya memilih maupun tidak memilih tanpa peran hati nurani. Kalau merasakan hal yang sama dengan saya, jangan tidak datang ke TPS. Tetap gunakan hak anda, bukan untuk siapa-siapa, tapi coblos saja lambang Indonesia disana. Bagi yang sudah memiliki pilihan, yang terpenting, jangan lupakan janji mereka, jangan lupakan rayuan mereka. Ingat, kalau perlu catat! Taruh di depan tv, selotip dengan kuat! Dan bandingkan dengan cerdas. Biarkan memang rakyat yang memilih, tapi siapapun yang anda dukung, jangan lupakan bahwa yang menang harus membuktikan janjinya sekarang, tagih bersama-sama. Kalau tidak terbukti, jegal saja mulut kader-kader, mulut anggota-anggota kampanye dan mulut handai taulan yang menghipnotis anda untuk memilih apa yang mereka usung. Dan segeralah berpikir, kenapa anda sampai memilih yang tidak bisa menjaga janji-janjinya sendiri.