Jumat, 30 Mei 2014

AKU KINI KEHILANGAN

Aku kini kehilangan
Sejuk-sayup sore hari
Waktu mandi, gegas ngaji
Berlari membalap matahari

Aku kehilangan, lagi
Dimana ujung tak terlihat, lagi
Dimana bosan mengungkung, lagi
Sekerjap-kerjap, ujung pergi
Ujung pergi, tak bisa kuraih sambil berlari
Berjalan, tak juga dapat
Merangkak, tak jua sempat
Lalu
Kehilangan lagi

Kali ini, aku yang hilang
Rasa ingin hormat, rasa ingin turun, rasa ingin beranjak, rasa ingin kekal, rasa ingin beda, rasa ingin sayang, rasa ingin hidup
Mati juga hilang kini

Kucari yang hilang, atau aku yang dicari-cari?
Kucari jalan panjang, atau aku yang mempersempit hati?
Kucari tujuan, atau aku yang lupa diri?


Lantai K'ramik, 30 Mei 2014
Dikutip dari milik pribadi

Sabtu, 10 Mei 2014

Khusnudzon Malam Minggu

            Para pembaca muda, ketika tulisan ini saya tuangkan lewat jemari saya yang segede lengkuas ini bertepatan dengan malam yang disakralkan oleh mayoritas anak muda yakni malam minggu. Ditengah kebosanan yang menumpuk dan angin yang yang berhembus sepoi, saya mencoba menelaah kenapa malam ini dianggap begitu spesial lewat kacamata khusnudzon ala saya.
            Saya sendiri menganggap malam minggu begitu spesial, ya karena pada saat saya sekolah dulu malam ini adalah menjelang hari Minggu, dimana kalau biasanya saya akan berangkat bersepeda ria (kalau tidak malas) atau main PS (kalau rental buka) atau nonton kartun (saat 'Indosiar' masih menayangkan kartun full sampai jam 12 siang) atau mungkin membantu ibu di dapur (kalau masak enak). Saat itu saya berpikir kalau memang malam ini sangat spesial karena besoknya saya bisa menghabiskan waktu saya sebagai anak-anak dan bukan diperas dengan waktu untuk pergi sekolah. Menjelang remaja saya merasa malam ini begitu spesial karena malam minggu seperti ini biasanya saya keluar dengan teman-teman untuk menghabiskan gelas es teh sambil membahas hari-hari sekolah sebelumnya.
            Yang sedikit saya herankan kenapa ada yang menganggap malam ini adalah malam dimana bisa bertemu dengan pacar, menghabiskan waktu, bersenang-senang dan lainnya. Padahal kalau mau dipikir juga selama saat sekolah bisa juga bertemu pasangan dan teman. Kalaupun berbeda sekolah ya masih bisa kan antar-jemput gitu selain malam minggu ini. Pandangan ini yang akhirnya menjadikan banyak kenakalan (baca: proses berkembang yang kurang tepat) remaja terjadi. Seks bebas, mabuk, balap liar, menjadi santapan wajib remaja pada saat malam minggu.
            Yang lebih menyedihkan lagi adalah malam minggu bagi para jomblo. Kenapa pula disebut jomblo? Siapa yang menciptakan kata itu? Anyway, malam minggu seperti sekarang adalah malam yang menjadi momok karena mereka tidak bisa keluar bersama pasangan. Padahal ya bisa juga keluar bersama teman ataupun keluarga atau belajar, mungkin? Ataukah memang sudah separah itukah hubungan keharmonisan dalam keluarga sehingga tidak sempat ada waktu bersama berjalan-jalan, diajak makan gratis atau hanya sekedar nonton tivi sambil nyemil kacang goreng plastikan di rumah?
            Yang pasti menurut saya, pandangan seperti ini sangat sangat perlu dirubah. Sudah tidak jamannya remaja melakukan hal-hal yang kurang baik pada malam ini. Sudah tidak jamannya para jomblo makin ngenes di rumah atau dimana saja dan meratap atas kekalahan yang tidak bisa dia akui. Sudah waktunya semua remaja melakukan hal positif selama malam minggu, kalau perlu setiap malam. Sudah seharusnya para remaja yang dimabuk asmara ini tidak menggunakan kesempatan untuk enak-enakan padahal masih ada teman-teman mereka yang putus asa akhirnya nongkrong tidak jelas, balapan, mabuk, atau yang parah ya terpekur nonton bokep di rumah.
            Saya sendiri sekarang sering, bahkan selalu menghabiskan malam minggu saya di kampus. Ngenet sampai bosan. Karena menurut saya malam minggu adalah satu waktu saya bisa terpekur sendiri, tanpa mbokep tentunya, dan curhat dengan diri sendiri, dengan Tuhan ataupun dengan suasana. Ketika banyak waktu yang saya habiskan untuk melihat teman-teman saya, maka saya juga butuh waktu untuk sendiri atau setidaknya nyempil menjauh dari teman-teman saya. Karena waktu untuk sendiri adalah waktu yang sangat baik bagi kesehatan jasmani dan rohani.
Semoga terhibur dengan tulisan kali ini. Tetaplah semangat dalam malam-malam kalian. Dan tidak lupa mohon maaf jika terdapat kesalahan ataupun kebetulan yang bikin kalian tidak nyaman. Akhir kata, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!

Gazebo 4, 10 Mei 2014


Rabu, 07 Mei 2014

First Night, First Words, First Post

Kadang aku mikir, kalo memulai apapun itu harus didahului oleh sesuatu yang memang berkesan untuk ditulis. Karena itu aku selalu tidak mendapat semangat untuk menulis. Kalaupun ada, hal itu hanya akan berhenti di tengah, tanpa penyelesaian, tanpa ending, tanpa akhir. Hahaha, jadi berpikir kalau ternyata benar juga yang dikatakan teman-teman selama ini, bahwa aku adalah mahasiswa yang tidak pernah ada penyelesaiannya bahkan saat bercanda. Tidak ada yang lucu pada akhirnya dan tidak ada yang tertawa. Kalaupun ada, mereka menertawakan (dan tentunya sedikit kesal) dengan guyonanku  yang tidak lucu.
Oh ya, sebelumnya perkenalkan. Aku Roni, mahasiswa psikologi. Pada tulisan ini dibuat, aku sudah masuk semester 6, pertengahan pula. Yaaa, kalau dipikir memang sudah dekat waktuku untuk keluar dari kampusku tercinta dan masuk ke kehidupan yang jauh lebih keras. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku cuma mahasiswa yang tidak memiliki kelebihan di bidang akademis. Bukannya bodoh juga sih, namun rasa malas ini yang selalu kujadikan alasan untuk tidak belajar, ataupun memulai sesuatu.
Kembali pada bahasan awal tentang menulis. Sebenarnya tidak perlu ada trigger khusus. Asalkan ada kemauan. Dulu, pernah kubikin semacam blog, postingan cuma dua, tentang perkenalan dan ujian matematika. Itupun dengan bahasa alay saat itu. Mau bagaimana lagi, anak muda. Semangatnya tinggi, namun pendiriannya ngambang. Tapi mungkin dari kalian banyak yang bertanya, kalau memang aku berpikir bahwa perlu ada penyebab, kira-kira apa penyebabnya pada tulisan awalku ini?
Jawabannya tidak ada. Saat ini aku menulis hanya karena nganggur di kos seharian. Malam ketika kutulis ini, angin sedang berhembus kencang. Di balkon kos kutulis ini. Yah, daripada menganggur. Dan kupikir, inilah hal paling produktif yang bisa kulakukan dan aku ingin membuatnya menjadi rutin. Mungkin di tulisan-tulisan selanjutnya, kalian akan bisa sedikit memahami bagaimana kehidupanku. Bukan bermaksud pamer, tapi ya memang kebutuhan manusia kan untuk membuktikan eksistensinya? Dan inilah caraku. Kuharap juga hal ini bisa memberikan inspirasi bagi kalian yang membaca. Minimal untuk bersemangat membuktikan eksistensi kalian tanpa mengganggu sekitar.
Terimakasih sudah membaca tulisan pertamaku disini. Semoga terhibur dengan tulisan-tulisanku. Dan mohon maaf jika terdapat kesalahan ataupun kebetulan yang bikin kalian tidak nyaman. Akhir kata, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!


Balkon kos, 7 Mei 2014