"Padahal dzat Tuhan itu identik dengan agama yang mengajarkan kedamaian untuk umat manusia" (Rahmat, dkutip dari sini)
Malam ini saya nganggur banget malam ini di kampus. Sejenak sambil mendengarkan dan menonton video musik secara random di youtube dan menilik status teman-teman saya di facebook, saya berusaha menikmati kebiasaan saya yang beberapa waktu ini jarang saya lakukan lagi yakni begadang sampai pagi di kampus. Beberapa status dan beberapa video berhasil membuat saya terjaga sampai saya membaca status salah satu teman saya tentang pendapatnya mengenai ospek salah satu fakultas UIN Surabaya pada tahun 2014 ini. Pembaca mungkin bisa melihatnya sendiri di link yang saya kutip diatas.
Sedikit tertawa dan miris membacanya. Walaupun hanya dari satu sumber, saya tidak berkenan untuk mencari lebih jauh mengenai berita ini. Hemat saya, ujung-ujungnya hanya mendiskreditkan satu pihak. Namun saya tergelitik untuk menulis lewat blog saya ini, berharap pada suatu hari nanti dapat dijadikan pelajaran bagi para pembaca ataupun keluarga saya sendiri.Tentu saja, saya ingatkan bahwa ini pendapat pribadi dan tidak bermaksud menyinggung pihak-pihak terkait. Murni hanya pendapat pribadi. Jadi mohon maaf sebelumnya.
Oke, tema 'Tuhan Membusuk' menurut saya menggelikan. Hal yang terpikir oleh saya pertama kali adalah, "Wah, jiwa muda mahasiswa-mahasiswa ini, cukup bagus dan berani!". Hemat saya, mereka mencari identitas lewat tema yang mereka gunakan, dan itu dibagi sebagai kajian bagi mahasiswa-mahasiswa baru di tempat mereka. Saya sendiri berpikir bahwa mereka, para mahasiswa itu, berharap mereka menemukan pucuk teratas kebutuhan diri (yang telah dikonsep oleh Maslow). Mereka hanya mencari perhatian, dari sekitar, dari tuhannya. mencari titik tertinggi dari kebutuhan layaknya dijelaskan Maslow. Namun kembali mereka kurang matang memikirkan bagaimana akhirnya implementasi kedepannya bagi mereka, bagi mahasiswa baru dan bagi lingkungan akademika di sekitar mereka. Mereka juga kurang memikirkan bagaimana pendapat masyarakat mengenai hal ini. Masyarakat Indonesia, pada mayoritasnya masih menabukan konsep-konsep dan pertanyaan filosofis mengenai Tuhan.
Sejenak, kita juga seharusnya berpikir. Kalaupun tema ini dimunculkan karena melihat realita yang terjadi sekarang, maka hal ini tetap tidak pernah bisa digunakan. Karena pada dasarnya membusuk adalah kata sifat bagi sebuah benda. Sedangkan, Tuhan, yang manapun bukan semata-mata sebuah benda. Oke, saya melihatnya dari sudut padan saya sendiri sebagai orang Islam. Allah itu dzat, bukan semata-mata benda, makhluk atau entitas non-kekal apapun. Dia Maha Kekal. Membusuknya Tuhan tak akan pernah terjadi. Hal yang mungkin terjadi adalah membusuknya konsep mengenai Tuhan, dalam otak manusia itu sendiri. Selain itu juga pembusukan itu semakin terlihat dari perilaku manusianya. Jika dalam berita diterangkan tema itu dipilih karena banyak kalangan menggunakan agama dalam kepentingan politik dan lainnya, maka diksi yang digunakan dalam tema yang menggelitik itu juga tetap salah.
Intinya, pendapat saya adalah tema itu kurang pantas. Dari penulisannya, dari bahasanya. Namun temanya, lumayan jos tapi bukan sebagai tema ospek, lebih tepat untuk diskusi (mengutip pendapat teman saya @wahyusays ketika mengobrol ringan mengenai berita ini). Namun kita jangan lupa, mari kita berpikir alasan pihak dewan mahasiswa fakultas tersebut menggunakan tema ini. Agama memang digunakan sebagai alasan, seakan-akan semuanya akan halal jika untuk kepentingan agama. Mengutip Karl Max, bahwa 'agama adalah candu', maka kurang lebih tepat juga. Agama menjadi alasan terakhir seseorang berbuat semena-mena. Orang-orang yang mendapat keuntungan akhirnya ketagihan menggunakan kedok agama untuk mengeruk keuntungan lebih banyak. Dari sini, akhirnya agama hanya digunakan sebagai pemuas nafsu, kan? Bukan sebagai alasan dasar seseorang dalam bertindak, kan? Konsep ini juga yang menurut saya sebagai titik membusuknya Tuhan, dalam pemikiran manusia. Tapi ingat tulisan saya diatas, bahwa GOD is not a thing. Tuhan adalah dzat, tidak terbantahkan.
Akhir kata, mari kita kita kembali berpikir bagaimana konsep kita tentang Tuhan. Apapun konsep anda, terlepas benar atau salah, saya berdoa bahwa hal itu akan terus anda evaluasi dan anda pegang teguh. Mari kita juga mengevaluasi bagaimana kita berbahasa, karena lidah kita adalah senjata tertajam yang Tuhan berikan untuk kita. Sekali lagi saya tekankan bahwa hal ini murni pemikiran dan pendapat saya. Dan mohon maaf jika menyinggung pihak-pihak tertentu. Sekian dari saya, tetap jaga kesehatan, tetap semangat, selalu bahagia dan absurdlah pada saat tertentu! Sampai jumpa!